Minggu, 02 Mei 2010

Berbuat Walaupun Sedikit


Tidaklah sama orang-orang beriman yang duduk (tidak pergi jihad) tanpa memiliki udzur (alasan yang benar), dibanding orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya. Allah mengutamakan satu derajat bagi orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya di atas orang-orang yang duduk saja. Kepada masing-masing mereka Allah menjajnjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-oang yang duduk dengan pahala yang besar.” (QS. An Nisa: 95)

Menurut Abdullah bin Abbas radhiallahu ‘anhu Ayat ini bercerita tentang perang Badr dan orang-orang yang berpartisipasi di dalamnya. Ketika terjadi perang Badr bertanyalah Abdullah bin Jahsy dan Abdullah bin Ummi Maktum, “Wahai Rasulullah, kami berdua buta, adakah rukhshah bagi kami?” maka turunlah ayat “Tidaklah sama orang-orang beriman yang duduk (tidak pergi jihad) tanpa udzur” . Allah ‘Azza wa Jalla mengutamakan para mujahidin di atas orang yang tidak berangkat jihad, maksudnya adalah jika orang itu tidak berangkat tanpa memiliki alasan syar’i (udzur) atau Ulul Dharar. Begitu pula ayat “Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar” adalah tertuju untuk orang beriman yang tidak berangkat tanpa ada alasan syar’i. Lafazh ini dari At Tirmidzi. Ia berkata hadits ini hasan gharib melalui jalur ini. (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul Azhim, 2/387. Dar Ath Thayyibah Lin Nasyr wat Tauzi’)

Ada beberapa ‘ibrah dari ayat ini. Pertama, Allah ‘Azza wa Jalla menceritakan tentang dua tipe orang beriman, yaitu mu’min mujahid (mu’min yang berjihad) dan mu’min qa’id (mu’min yang duduk tidak berjihad), di mana Allah melebihkan mu’min mujahid di atas mu’min qa’id sebanyak satu derajat, dan pahala yang besar. Kedua, ayat ini tidaklah mencela mu’min qa’id, namun demikian, memberikan stimulus (rangsangan) agar kita menjadi mu’min mujahid, sebab Allah ‘Azza wa Jalla telah menyediakan balasan yang besar bagi mereka. Ketiga, dari ayat yang mulia ini, kita mengetahui tentang adanya orang yang memang beriman tapi enggan berjihad. Walau sebenarnya, tidak pantas orang beriman tapi minus amal shalih.

Seringkali orang yang enggan bergerak memiliki alasan untuk itu. Baik alasan yang logis dan syar’i atau yang sengaja dicari-cari. Namun alasan apapun, Allah ‘Azza wa Jalla lebih mengetahui kondisi yang sebenarnya.

Ada juga yang berdalih dengan ayat:

“Dan tidak sepatutnya orang mu’min semuanya pergi berjihad, mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka itu dapat menjaga dirinya.” (QS. At taubah: 122)

Padahal ayat ini bukanlah hujjah (alasan) bagi mereka yang diam-diam saja. Justru ayat ini hujjah bagi mereka yang pergi berjihad.

Berkata Imam Al Hasan Al Bashri Radhiallahu ‘Anhu:

ليتفقه الذين خرجوا، بما يردهم الله من الظهور على المشركين، والنصرة، وينذروا قومهم إذا رجعوا إليهم.

“Hendaknya orang-orang yang keluar itu mempelajari dengan apa-apa yang Allah kehendaki atas diri mereka berupa kemenangan dan pertolongan bagi mereka atas kaum musyrkin, dan mereka memberi peringatan kepada kaumnya jika mereka kembali nantinya.” (Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 4/237. Imam Ibnu Jarir, Jami’ Al Bayan, 14/571. Muasasah Ar Risalah )

Apa yang dkatakan oleh Imam Al Hasan Al Bashri ini didukung oleh Imam Ibnu Jarir bahwa hendaknya ada sekelompok pasukan yang mempelajari bagaimana menolong agama Allah, umat Islam, dan para sahabat nabi, dari kekuatan musuhnya dan orang kafir. Secara hakiki makna tafaqquh di sini adalah mempelajari cara untuk memenangkan Islam atas orang-orang musyrik. (Ibid, 14/573)

Maka, tidak benar menggunakan saat ini sebagai dalil untuk meninggalkan perjuangan islam, hanya demi mempelajari ilmu-ilmu dunia dan demi kepentingan dunia. Simaklah ucapan Imamul Mujahid Asy Syahid Syaikh Abdullah ‘Azzam Rahimahullah berikut ini, “Sesungguhnya agama ini tidak akan dapat dipahami kecuali oleh orang-orang yang berjihad untuk merealisasikan secara nyata di bumi. Adapun orang yang menghabiskan hidupnya di antara lembaran kitab dan fiqih, tidak akan dapat memahami tabiat agama ini kecuali mereka berjihad untuk membelanya. Agama ini tidak dapat dipahami rahasia-rahasianya oleh orang faqih yang duduk-duduk, karena fiqih itu tidak diambil kesimpulannya kecuali dari perjalanan kehidupan berharakah bersama agama ini di alam realita.”

Berkata Asy Syahid Sayyid Quthb rahimahullah, “Sesungguhnya fiqih tidak dipelajari dari seorang ‘alim yang duduk-duduk saja, sesungguhnya agama Allah ini tidak dipelajari dari seorang ‘alim yang duduk dan beku.” Dalam kesempatan lain ia berkata, “Sesungguhnya duduk meninggalkan jihad adalah tanda cacatnya aqidah dan lemahnya pemahaman agama.”

Kenapa Harus Berbuat?

Pertama. Allah ‘Azza wa Jalla, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan orang-orang beriman melihat amal kita. Iman dan amal-lah yang menentukan kemuliaan dan kehinaan manusia. Dan untuk amal-lah kenapa Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan kita. Dan yang terpenting, Allah ‘Azza wa Jalla melihat amal terbaik (ahsanu ‘amala), bukan amal terbanyak..

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.” (QS. Al Mulk: 2)

“Dan katakanlah, ‘Beramal-lah kamu, maka Allah, RasulNya, dan Orang-orang beriman akan melihat amalmu’ ” (QS. At taubah: 105)

Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah ‘alaihi shalatu was salam bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat jasad dan penampilan kalian, tetapi Allah melihat hati-hati dan amal-amal kalian.” (HR. Muslim)

Kedua. Amal shalih di dunia adalah hujjah (alasan) bagi kita di depan mahkamah Allah pada yaumul hisab nanti. Walau hasilnya jauh dari yang diharapkan bahkan banyak menemui kegagalan, paling tidak kita telah berbuat dan memiliki deposito amal di dunia yang bisa dibanggakan di akhirat kelak.

Allah Tabaraka wa Ta’ala berfirman:

“Dan (ingattlah) ketika suatu umat di antara mereka berkata, ‘Mengapa kamu menasehati kaum yang akan dibinasakan atau diazab Allah dengan azab yang keras?’ Mereka menjawab, ‘Agar kami mempunyai alasan (lepas tanggung jawab) kepada Tuhanmu, dan agar mereka bertaqwa.’ “ (QS. Al A’raf: 164)

Ketiga. Amal shalih adalah tiket bagi manusia menuju surga. Apa yang kita perbuat di dunia dengan tujuan mengharapkan surgaNya adalah haq dan masyru’. Sebab dunia adalah ladang bagi akhirat. Dunia adalah tempat menanam dan berjuang, sedangkan akhirat adalah tempat kita menyemai hasilnya.

Jangan hiraukan ucapan para sufi yang melampaui batas. Mereka menyalahkan manusia yang beramal untuk mengharapkan surgaNya, bahkan bagi mereka itu adalah bentuk kemusyrikan. Bagi mereka beramal harus mengharapkan ridhaNya saja dan lantaran cinta kepadaNya, bukan keinginan yang lain seperti mengharap surga atau takut neraka. Lantaran sikap berlebihan ini, mereka terjebak pada sikap menggugat terhadap perintah Allah ‘Azza wa Jalla. Sungguh, mengharapkan surga dan mengharapkan ridhaNya bukanlah dua hal yang layak dipertentangkan. Sebab orang yang mendapatkan ridhaNya pastilah tempatnya di surga, sebagaimana penduduk surga adalah pasti orang yang telah diridhaiNya. Sebagaimana ayat: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam surgaKu.” (QS. Al Fajr: 27-30) Semoga para sufi –khususnya yang ghuluw (melampaui batas)- dan para pengikutnya memahami ayat ini dengan baik dan benar, agar tidak mengeluarkan pernyataan yang merusak dan berlebihan.

Apakah kita berani menyalahkan orang yang mengharapkan surga, padahal Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Salam sejahtera untukmu, masuklah kalian ke surga lantaran amal yang kamu lakukan.” (QS. An Nahl: 32) atau ayat lain: “Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang beriman dan beramal shalih, bahwa untuk mereka disediakan surga-surga yang di bawahnya mengalir sungai-sungai ..dst” (QS. Al Baqarah: 25)

Apakah kita berani menyalahkan orang yang mengharapkan terhindar dari neraka padahal Allah ‘Azza wa Jalla berfirman, “Barangsiapa yang dijauhkan dari neraka dan dimasukan ke dalam surga, maka ia telah beruntung.” Dan Rasulullah ‘alaihi shalatu was salam mengajarkan doa Allahumma ajirni minannar (Ya Allah jauhkanlah aku dari api neraka) atau doa lain yang lebih tegas dalam masalah harap surga dan takut nereka ini, Allahumma inni as-aluka ridhaka wal jannah wa a’udzubika min sakhatika wan naar (Ya Allah aku mohon kepadaMu ridhamu dan surga, dan aku berlindung kepadamu dari panasnya api neraka).

Keempat. Adanya permusuhan orang-orang kafir yang terus-menerus. Sejak fajar da’wah Islam bersinar, kaum kafirin tidak pernah ridha dengan agama ini dan pemeluknya. Mereka membenci Rasulullah dan para sahabat, dengan memberikan julukan-julukan hina dan gambaran yang dusta yang disebarkan. Kebencian ini terus menerus terjadi dari masa ke masa hingga hari ini, bahkan selamanya.

Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

“Muhammad adalah utusan Allah, dan orang-orang yang bersamanya bersikap keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu melihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaanNya. Pada wajah mereka tampak tanda-tanda bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka (yang diungkapkan) dalam Taurat dan Injil, yaitu seperti benih yang mengeluarkan tunasnya, kemudian tunas itu semakin kuat, lalu menjadi besar dan tegak lurus di atas batangnya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya, karena Allah hendak membuat jengkel hati orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman. Allah menjanjikan kepada orang-orang beriman dan meramal shalih, ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al Fath: 29)[1]

“Dan tidak akan pernah senang kepadamu selamanya, orang-orang Yahudi dan Nashrani, sampai kamu mengikuti millah mereka.” (QS. Al Baqarah: 120)

Karena kebencian inilah mereka bersatu satu sama lain.

“Dan orang-orang kafir, sebagian mereka melindungi sebagian yang lain.” (QS. Al Anfal: 73)

Walau mereka bersatu, sebenarnya hati mereka bermusuhan satu sama lain.

“Kamu kira mereka bersatu padahal hati-hati mereka berpecah-belah.” (QS. Al Hasyr: 14)

Demikianlah, permusuhan mereka ini membuat mereka selalu mengintai, membuat makar, perangkap, dan bahkan penyerangan, terhadap kaum muslimin. Mereka mengetahui kelemahan umat ini, menyusup ke dalam barisannya, dan rela banyak berkorban untuk itu. Sementara umat ini, sedang apa kalian ?

Dari Mana Kita Bergerak?

Telah jelas alasan syar’i dan waqi’ , kenapa kita harus bergerak. Maka, bukan waktunya bagi para ikhwah aktifis bersikap diam, jutek, merengut, cemberut, hanya bisa mencaci maki keadaan, dan gagal gaul. Bertambah buruk bila justru zhan terhadap ikhwah yang bergerak hanya karena ada hal yang tidak berkenan di hati. Lebih buruk jika hal-hal itu sifatnya sangat remeh, tidak prinsip. Akhirnya kader dakwah seperti ini hanya disibukkan dengan apa yang berkecamuk di pikirannya sendiri, hatinya sempit, ingin pergi dari lingkungan da’wah hanya karena ketidakmampuan beradaptasi dengan lingkungan dan para da’i lannya. Alangkah baik jika kita memberikan banyak pemakluman, sebab bagaimanapun juga, orang bergerak lalu ada kesalahan masih lebih baik dibanding orang yang tanpa kesalahan sebab memang tidak ada yang diperbuat. Kesalahan orang yang berbuat akan terhapus oleh kebaikan yang menyusulinya. Bukankah demikian?

Namun dari mana kita memulai? Dalam hal ini, potret perjuangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah contoh terbaik untuk diteladani oleh para pejuang. Imam Malik radhiallahu ‘anhu mengatakan, ‘Islam tidak akan tegak kecuali dengan cara pertama kali ia ditegakkan.”

Aqidah (Ideologi)

Inilah yang harus dibenahi oleh para pejuang Islam. Sebab Inilah yang pertama kali dilakukan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa sallam. Yaitu ‘ani’budullah wajtanibuth thaghut (mengabdi kepada Allah dan menjauhi thaghut) bahkan inilah yang diperjuangkan para Rasul. Sebab dibalik aqidah yang kuat dan bersih, terdapat kekuatan yang maha dahsyat yang mampu merubah si lemah menjadi kuat, si pengecut menjadi pemberani. Kekuatan aqidah adalah kekuatan revolusioner yang merubah secara drastis kondisi Arab jahiliyah menjadi Arab berperadaban. Kekuatan inilah yang merubah Bilal bin Rabbah dari seorang budak menjadi mulia, bahkan dialah yang membunuh dengan tangannya sendiri Umayyah bin Khalaf, mantan majikannya nan kejam ketika jahiliyah.

Kekuatan aqidah inilah yang menjadikan umat Islam menjadi pemimpin dunia selama satu milenium. Hilangnya kekuatan aqidah adalah penyebab utama hilangnya supremasi umat Islam dalam percaturan pergaulan dunia.

Aqidah di sini adalah kekuatan cinta dan iman mendalam kepada Allah ‘Azza wa Jalla, siap mati untuk membela agamanya. Siap menjalankan segala perintahNya dan ridha menjauhi semua laranganNya, disertai pengagungan asma dan sifatNya, menetapkan adanya, tanpa ta’thil (mengingkari), tahrif (merubah), takyif (bertanya bagaimana), tasybih (menyerupakannya dengan yang lain). MenjadikanNya sebagai satu-satunya Asy Syari’ (pembuat syariat) dan paling berhak diibadahi, selainNya adalah thaghut dusta yang wajib diingkari secara total.

Aqidah disini adalah kekuatan cinta dan iman kepada nubuwwah Muhammad Shallallhu ‘alaihi wa sallam. Mengikuti jejak hidupnya, dan menjadi pembela sunah-sunahnya. Mentaati dan mencintainya, serta mencintai apa yang dicintainya, dan membenci apa yang dibencinya. Dan mengimaninya sebagai penutup para Nabi dan Rasul. Memuliakan seluruh sahabatnya dan menilai bahwa mereka semua adil dan merupakan generasi terbaik sepanjang masa yang menjadi panutan setuiap muslim sepanjang masa dan di seluruh tempat.

Menjadikan Al Qur’an dan As Sunnah Ash Shahihah sebagai satu paket pedoman hidup yang tak boleh dipisahkan dan tidak ada keraguan di dalamnya, baik di depan maupun di belakangnya, serta tidak tergantikan dan tertandingi oleh yang lainnya. Semua adalah Al haq (benar), sebab ia turun dari yang Maha Benar. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Dan Kami turunkan adz Dzikr (Al Qur’an) kepadamu, agar kamu menerangkan kepada manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka dan agar mereka memikirkan.” (QS. Al Hijr:44) atau ayat lain: “Dan tidaklah yang diucapkan (Muhammad) itu berasal dari hawa nafsunya, melainkan wahyuNya kepadanya.” (QS. An Najm: 4-5)

Meyakini Islam adalah agama dan kehidupan, pemerintahan dan rakyat, akhlak dan kekuatan, undang-undang dan peradaban, da’wah dan jihad, aqidah dan syariah. Tidak menjadikan selainnya sebagai ideologi dan pedoman hidup, sebab semua selain Islam adalah batil dan sesat, baik Nashrani dan Yahudi yang telah dirusak oleh pemeluknya sendiri, atau isme-isme jahiliyah modern seperti marksisme, komunisme, sosialisime, kapitalisme, nasionalisme sempit, dan lain-lain.

Demikianlah sebagian kecil masalah aqidah yang harus segera dibenahi dalam dada kaum muslimin, sebagai modal dasar menuju kemenangan da’wah Islam.

Akhlak (Moralitas)

Pembenahan akhlak adalah tuntutan selanjutnya, sebab “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak mulia” demikian sabda yang masyhur dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apa yang diinginkan dari perbaikan akhlak ini? Tujuan perbaikan akhlak begitu jauh dan mendalam. Perbaikan ini menginginkan agar seorang muslim tetaplah menjadi seorang muslim yang sebenarnya di mana saja mereka berada, apapun kondisinya. Sehingga mereka menjadi intan permata yang tegar di tengah gundukan sampah. “Bertaqwalah kalian kepada Allah di mana saja berada, dan ikutilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik, niscaya akan menghapuskannya.” (HR. Tirmidzi, hasan shahih). Tidak menjadi mumayyi (plin-plan), tidak berpendirian, mudah diwarnai keadaan.

Perbaikan ini menginginkan agar setiap muslim menjadikan akhlak Islam dalam urusan keseharian mereka, politik, ekonomi, pendidikan, militer, kelembagaan, dan lain-lain. Tidak mengunakannya secara parsial. Shalat cara Islam, tetapi ekonomi cara Yahudi. Nikah cara Islam, politik cara machiaveli. Aqiqah cara Islam, mendidik anak cara Amerika.

Setiap bangsa memiliki akhlaknya sendiri, satu sama lain saling bertentangan dan intervensi. Maka akhlak Islam yang memiliki kekhasan dan keunggulan -sebab sifatnya universal tidak terbatas pada bangsa tertentu- lebih berhak mewarnai yang lain. Namun kenyataannya umat Islam sendiri telah menjauh dari akhlak Islam.

Perbaikan ini menginginkan agar setiap ukhti muslimah kembali kepada jati dirinya. Tidak diperbudak mode, fashion, dan para propagandis kebebasan. Tidak menjadikan para artis dan celebritis sebagai acuan hidup dan bahan obrolan. Betapa aneh, sebuah dunia yang tengah ditinggalkan di tempatnya lahir, justru sedang trend di negeri-negeri muslim. Apa yang disebut emansipasi dan isu kesetaraan gender, semua bermuara pada satu hal yang sama, menjerumuskan muslimah dalam jurang tak berujung, menjadi budak hawa nafsu dan syetan, merusak peradaban Islam dan generasi baru, sebab bagi mereka wanita adalah madrasah pertama yang harus dirusak. Adakah ini disadari?

Perbaikan ini menginginkan lahirnya para pemuda yang tangguh, militan dan shalih. Sebagaimana pemuda kahfi. Pemuda yang tidak lupa Tuhannya, menghormati orang tua dan menyayangi anak kecil. Pemuda yang mengetahui tugasnya sebagai agen perubahan dan penerus perjuangan, serta menjadi pasukan iman yang menjadi oposisi bagi kebatilan dan kekuatan syetan.

Amat disayangkan bila ada Harakah Islamiyah yang menyepelekan masalah akhlak ini, bagi mereka perubahan akhlak tidaklah signifikan untuk menuju Khilafah Islamiyah. Mereka lupa, sempitnya negeri bukanlah karena padatnya penduduk, melainkan karena bobroknya akhlak penduduknya. Bukankah demikian?

Fikrah (Pemikiran)

Tidak syak lagi, ghazwul fikri telah lama merontokan bangunan dan struktur pemikiran Islam yang melanda sebagian besar kaum muslimin. Kaum kafir, khususnya Yahudi dan Nashrani, menyerang pemikiran umat melalui berbagai media dan sarana. Sarana informasi dan propaganda seperti televisi, radio, koran dan majalah, yang mudahnya masuk ke negeri-negeri muslim. Bahkan mereka memiliki kaki tangan di negeri-negeri muslim.

Bagai obat bius, -disadari atau tidak- serangan pemikiran ini juga menyusup ke dalam kurikulum pelajaran sekolah-sekolah. Sehingga umat Islam terasa asing di hadapan budaya, peradaban, dan sejarahnya sendiri. Jangan tanyakan mereka, tentang kehebatan Shalahuddin al Ayyubi atau Muhammad al Fatih, keberanian Barra bin Malik atau ‘Imad Aqil, kejeniusan Syaikh Ahmad Yasin atau Yahya Ayyash, kecerdasan Ali bin Thalib atau kehebatan debat Imam Abu Hanifah, kepahlawanan Ummu Khansa atau kepintaran ‘Aisyah, kekuatan hujjah Imam Syafi’i atau ketegaran Imam Ahmad bin Hambal, kecermelangan otak Ibnu Haitsam sang ahli fisika atau Ibnu Nafis penemu pembuluh darah, Al Khawarizmi ahli matematika atau Ibnu Sina rujukan para dokter, Ibnu Batutah sang pengembara atau Laksamana Ceng Ho muslim cina penemu Amerika, Ibnu Rusyd filsuf besar Islam atau Al Ghazaly faqih yang sosiolog, dan lain-lainnya. Jangan tanyakan itu semua! Allahul musta’an

Coba tanyakan tentang Che Guevara, Karl Marx, Lenin, Isaac Newton, Einstein, Thomas Alfa Edison, Superman, Batman, Power Rangers, Ksatria Baja Hitam, Dora, Sponge Bob, Metallica, Guns n Roses, Nirvana, J-Lo, Michael Jackson, Madonna, Britney Spears, Christina Aguilera, Simple Plan, David Beckham, David Trezeguet, Ronaldo, Ronaldinho, Batistuta, Veron, Michael Jordan, Shaqil O’neal, Kobe Bryant, dan lain-lain. Tanyakanlah ini, niscaya meluncurlah jawaban menakjubkan dari mereka, yang tidak kita dapatkan dari pertanyaan sebelumnya.

Menuntut kepedulian mereka terhadap kesengsaraan saudaranya di Palestina, Irak, Afghanistan atau lainnya, adalah tuntutan yang sulit terwujud. Tapi dengarkan tuturan mereka tentang HAM, kesetaraan gender, kebebasan, persamaan, mereka telah meguasainya dengan baik. Tentu dengan definisi yang terbaratkan. Apalagi berbicara tentang kematian artis, perceraiannya, kumpul kebo, dan tetek bengek lainnya. Sunguh begitu peduli. Demikianlah gambaran suram yang meracuni sebagian umat Islam lantaran dahsyatnya ghazwul fikri.

Inilah generasi muslim yang hilang. Mereka kosong dari kebanggaan Islam dan peradabannya. Maka tidak heran bila setelah ghazwul fikri berhasil, musuh-musuh Islam mudah menaklukan wilayah Islam.

Tarbiyah (pendidikan dan pembinaan)

Apa yang Allah ‘Azza wa Jalla tegaskan bahwa Dia meninggikan derajat orang yang beriman dan berilmu dengan banyak derajat adalah benar adanya. Kemuliaan dan kejayaan umat ini pernah diraih lantaran pesatnya ilmu pengetahuan. Saat itu tak ada dikotomi antara ilmu-ilmu agama dan dunia. Mereka memahami semua ilmu adalah tanda-tanda kebesaran Allah di muka bumi dan bernilai ibadah mempelajarinya. Allah ‘Azza wa Jalla adalah Al Haq (Yang Maha Benar), maka apa yang diturunkanNya melalui QauliyahNya adalah benar, dan apa yang diturunkanNya melalui KauniyahNya adalah benar. Kedua kebenaran ini tmustahil berbenturan, ilmu-ilmu agama yang berasal dari QauliyahNya akan selalu sejalan dengan iptek yang berasal dari KauniyahNya. Jika ada perbenturan, maka ipteklah yang harus dikaji ulang sebab ia mengalami perkembangan. Sekarang teorinya A, besok berubah B. Sedang agama ini tetap. Hanya sihir, perdukunan, dan sejenisnya yang bukan berasal dari ilmu Allah, melainkan dari syetan.

Paradigma inilah -paradigma yang selalu memuliakan ilmu, apapun ilmu itu selama bermanfaat bagi kehidupan dunia akhirat manusia- yang membuat umat memimpin dunia. Sebab mereka membina diri disertai dengan kesungguhan dan rasa pengabdian kepada Allah Rabbul Jalil, dan berharap balasan yang baik dan besar.

Mereka tidak merasa remeh dengan apa yang dipelajarinya. Adapun saat ini, kita lihat sendiri, calon mahasiswa mencari jurusan bukan semata-mata menuntut ilmu melainkan mengutamakan prospek profesi masa depan. Ya, ujung-ujungnya duit dan perut. Mereka lupa, Allah ‘Azza wa Jalla tidak akan mewafatkan hambaNya sebelum hak rizkinya terpenuhi semua baginya. Inilah aqidah yang harus dipegang erat. Sungguh, ilmu akan menjaga pemiliknya di mana saja berada. Sebaliknya, harta akan merepotkan pemiliknya, dia akan selalu mencari cara untuk menjaganya.

Jihad

Jihad adalah puncak ajaran Islam. Ia wajib ada dalam benak para pejuang Islam, walau negerinya tanpa pergelokan. Hakikatnya, esensi jihad ada di manapun. Kita bisa jihad di bidang apa saja, sebab jihad adalah kesungguhan dan kesulitan. Namun dalam konteks ini, jihad dalam arti sebenarnya yaitu qital bi saif (perang dengan pedang) tidak boleh redup apalagi hilang dalam agenda para pejuang Islam. Sebab cepat atau lambat akan datang masanya umat ini akan mengalami jihad besar melawan kekuatan kafir, Nashrani dan Yahudi. Peristiwa Bosnia Herzegovina atau Ambon adalah bukti dan akibat dari kelengahan umat dalam mempersiapkan dirinya dengan jihad.

Rasulullah ‘Alaihi shalatu wa salam mengingatkan:

“من مات ولم يغز ولم يُحَدِّثْ نفسه بالغزو مات على شعبةٍ من نفاقٍ”.

“Barangsiapa yang belum pernah berperang, dan belum pernah dirinya membicarakan perang, maka jika ia mati, mati dalam cabang kemunafikan.” (HR. Muslim No. 1910, Abu Daud No. 2502, )

Wallahu a’lam wa lillahil ‘izzah

[1] Sebenarnya yang marah terhadap para sahabat, bukan saja orang-orang kafir, tetapi juga kaum syiah (rafidhah).. Berkata Imam Ibnu Katsir rahimahullah, “Dari ayat ini, Imam Malik –dalam sebuah riwayat darinya- mengkafirkan kaum syiah karena mereka marah kepada para sahabat radhiallahu ‘anhum. Imam Malik berkata, ‘lantaran mereka marah terhadap para sahabat, padahal barangsiapa yang marah terhadap para sahabat Nabi, maka ia kafir menurut ayat ini.’ Fatwa Imam Malik ini disepakati segolongan ulama.(Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Qur’anul Azhim, 7/362)

Fatwa Nasid

Fatwa-Fatwa Ulama Tentang Nasyid-Nasyid Islami (Boleh dan bersyarat)
Dikirim oleh Farid Nu'man Hasan ke (Fiqih dan Fatwa) pada 01-09-2009
Dikumpulkan oleh Farid Nu’man dari Islamgold.com

1. Fatwa Samahatusy Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz Rahimahullah

Beliau memiliki beberapa fatwa, kami akan coba sampaikan empat fatwa.

Kami kutip dari: http://www.islamgold.com/view.php?gid=10&rid=132

Fatwa 1:

سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز

س: ما حكم استماع أشرطة الأناشيد الإسلامية؟
جـ- الأناشيد تختلف فإذا كانت سليمة ليس فيها إلا الدعوة إلى الخير والتذكير بالخير وطاعة الله ورسوله والدعوة إلى حماية الأوطان من كيد الأعداء والاستعداد للأعداء ، ونحو ذلك ، فليس فيها شيء .
أما إذا كان فيها غير ذلك من دعوة إلى المعاصي واختلاط النساء بالرجال أو تكشفهن عندهم أو أي فساد كان فلا يجوز استماعها .

Beliau ditanya: “Apa hukum mendengarkan kaset-kaset nasyid Islami?

Beliau menjawab:

“(Hukum) Nasyid memiliki perbedaan. Jika nasyid tersebut benar, tidak ada di dalamnya kecuali ajakan pada kebaikan dan peringatan pada kebaikan dan ketaatan kepada Allah dan RasulNya, serta ajakan kepada pembelaan kepada tanah air dari tipu daya musuh, dan menyiapkan diri melawan musuh, dan yang semisalnya, maka tidak apa-apa. Ada pun jika di dalam nasyid tidak seperti itu, berupa ajakan kepada maksiat, campur baur antara laki-laki dan wanita, atau para wanita membuka auratnya, atau kerusakan apa pun, maka tidak boleh mendengarkannya.” (Selesai fatwa pertama)

Fatwa 2:

سماحة الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله :

الأناشيد الإسلامية مثل الأشعار؛ إن كانت سليمة فهي سليمة ، و إن كانت فيها منكر فهي منكر … و الحاصل أن البَتَّ فيها مطلقاً ليس بسديد ، بل يُنظر فيها ؛ فالأناشيد السليمة لا بأس بها ، والأناشيد التي فيها منكر أو دعوة إلى منكرٍ منكرةٌ ) [ راجع هذه الفتوى في شريط أسئلة و أجوبة الجامع الكبير ، رقم : 90 / أ [

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz berkata:

“Nasyid-nasyid Islam itu seperti sya’ir-sya’ir. Jika dia benar isinya, maka dia benar. Jika di dalamnya terdapat kemungkaran, maka dia munkar .... wal hasil, memutuskan hukum nasyid secara mutlak (general/menyamaratakan) tidaklah benar, tetapi mesti dilihat dulu. Maka, jika nasyid-nasid tersebut baik, maka tidak apa-apa. Dan nasyid-nasyid yang terdaat kemungkaran atau ajakan kepada kemunkaran, maka dia munkar.” (Lihat fatwa ini dalam kaset tanya jawab, Al Jami’ Al Kabir, no. 90/side. A) (selesai fatwa kedua)

Fatwa 3:

السؤال: كثر الكلام حول موضوع الأناشيد الإسلامية، والناس في حيرة حول هذا، وجاءت أسئلة بخصوص هذا الموضوع،أكثر من سؤال، فنرجوا من سماحتكم التفضّل ببيان ذلك وتوضيحه؟؟
فأجاب سماحة الشيخ عبد العزيز بن باز- رحمه الله :

الأناشيد الإسلامية فيها تفصيل، لا يمكن الجواب عنها مطلق، لا بد يكون فيها تفصيل؛ فكل شِعر أو أنشودة، سواء سمي أناشيد إسلامية أو غير ذلك، لابد أن يكون سليماً مما يخالف الشرع المطهّر، فإذا كان سليماً مما يُخالف الشرع المطهر في مدح قيمة الأخلاق كالكرم والجود، في الحث على الجهاد في سبيل الله، في الحث على حماية الأوطان من الأعداء، في الحث على الإخلاص لله في العمل، في الحث على بر الوالدين، وعلى إكرام الجار، على غير هذا من الشؤون الإسلامية، بأساليب واضحة ليس فيها ما يخالف الشرع المطهّر، فليس فيها بأس مثل ما قال الشافعي-رحمه الله- في الشعر- هو كان على خير نسق-: حسنه حسن، وقبيحه قبيح .
قال النبي صلى الله عليه وسلم: " إن من الشعر حكمة ".
الله قال-جلا وعلا-: " والشعراء يتبعهم الغاوون*ألم تر أنهم في كل واد يهيمون * وأنهم يقولون مالايفعلون * إلا الذين آمنوا وعملوا الصالحات وذكروا الله كثيراً....... "الآية.
فهؤلاء مُستَثنَون..إذا كان شعره سليماً، داخلاً في العمل الصالح..فهو مُستثنى.
ومن كان شعره ليس داخلاً في ذلك بأن يدعو إلى ما يُخالف الشرع، فإنه لا يكون أمره طيباً، ولا ينبغي أن يُسمح له، بل ينبغي أن يُترك حتى يكون شعره موافقاً لشرع الله، سليماً مما يُخالفه.
فكل أنشودة أو أناشيد ينبغي أن تُعرض على أهل العلم،على لجنة من أهل العلم ينظرونها، ويُنقّحونها، فإذا نقّحوها وبيّنوا أنها جائزة تُقدّم للمدرسة أو لغير المدرسة.. ولا تُقبل من كل أحد هذه الأناشيد بل تُنظر فيها من لجنة، إذا كانت من جهة المعارف فمن جهة المعارف، وإذا كانت من جهة المعاهد فمن جهة المعاهد..من أي جهة تكون هذه الأناشيد ؛لا يُسمح بها حتى تُعرض على لجنة من أهل العلم والبصيرة، المعروفين بالاستقامة والعلم بالشرع حتى ينظروا فيها، لأن التساهل فيها قد يُفضي إلى شرٍّ كثير..فلا بد أن تُعرض على أهل العلم الذين يُعرف فيهم العلم والفضل والغيرة الإسلامية..[كلمة غير واضحة]
فيها، ويبينون مافيها من خلل، ثم يوجِّهون أهل الأناشيد إلى ماهو الأفضل..فقال السائل: طبعاً من رأي سماحتكم أن لا تطغى هذه الأناشيد على الإنصراف عن سماع القرآن الكريم، لأن بعض الإخوة يشتكي بأنها صرفتهم عن سماع القرآن والذكر؟؟

فقال سماحة الشيخ ابن باز-رحمه الله-: لابد أن يكون لها وقت خاص قليل، ما تشغلهم عما هو أهم، لا عن دروسهم، ولا عن القرآن، ولا عن الذكر، فيكون لها وقت قليل.. لكن إذا أُريدت يكون لها وقت، إما قبل الدروس ، أو بعد الدروس، أو في أثناء الدرس، إذا كان في هناك فائدة، تتعلق بالمصلحة الإسلامية، على ما يُوجّه اللجنة، لجنة العلماء، على توجيه اللجنة التي تختص بهذا الشيء، تنظر فيه، إما أن تقول تُفعل، أو لا تُفعل، أو تكون في وقت كذا، أو في خمس دقائق، أو في عشر دقائق، أو في أقل أو في أكثر..[ثم انقطع الصوت] ثم قال الشيخ ابن باز: إذا كانت إسلامية فهي إسلامية، وإذا كانت ليست إسلامية وهي مباحة فهي مباحة على حسب، قد تكون أناشيد شيطانية

فقال سائل:لكن ياشيخ بالنسبة للتسجيلات الإسلامية-جزاهم الله خير- عندهم الكثير منها وخالية من الموسيقى، وفي بعض منها شيء مختلط[غير متأكدة] بالموسيقى، والموسيقى حرام؟
فقال الشيخ ابن باز-رحمه الله-: ما أدري والله، أنا ما عندي خبر منها ، لكن القاعدة موافقة الشرع ومخالفته، الذي فيها موسيقى تُمنع.

Syaikh Abdul Aziz bin Abdullah bin Baz ditanya:

“Banyak perbincangan seputar nasyid-nasyid Islam, manusia nampak kebingungan tentang masalah ini, dan telah datang pertanyaan ini secara khusus sebagai tema yang paling banyak ditanyakan, maka kami berharap kepada Anda untuk memberikan penjelasan tentang persoalan ini?”

Syaikh menjawab:

“Nasyid-nasyid Islami ini, di dalamnya perlu ada perincian. Tidak mungkin menjawabnya secara general (memukul rata). Harus dibahas secara rinci. Maka, semua sya’ir atau nasyid, baik yang dinamakan nasyid Islami atau selainnya, harus bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat yang suci. Jika nasyid bersih dari hal-hal yang bertentangan dengan syariat, berupa pujian terhadap akhlak yang terpuji, seperti kedermawanan, anjuran untuk berjihad fisabilillah, anjuran melindungi tanah air dari musuh, anjuran ikhlas dalam beramal, anjuran berbakti kepada orang tua, memuliakan tetangga, dan perilaku islami lainnya, dengan cara yang jelas dan tidak ada di dalamnya pertentangan dengan syariat, maka hal itu tidak mengapa. Sebagaimana komentar Imam Asy Syafi’i –rahimahullah- tentang sya’ir, dan ucapan beliau ini adalah mutiara yang bagus, katanya: “kebaikannya adalah baik, dan keburukannya adalah buruk.”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya di antara sya’ir itu terdapat hikmah.”

Allah Ta’ala berfirman:

“Dan penyair-penyair itu diikuti oleh orang-orang yang sesat. tidakkah kamu melihat bahwasanya mereka mengembara di tiap- tiap lembah, dan bahwasanya mereka suka mengatakan apa yang mereka sendiri tidak mengerjakan(nya)? kecuali orang-orang (penyair-penyair) yang beriman dan beramal saleh dan banyak menyebut Allah …. (QS. Asy Syu’ara (26): 224-227)

Mereka inilah yang mendapatkan pengecualian, jika sya’irnya baik, maka itu termasuk amal shalih, maka mereka inilah yang dikecualikan.

Tetapi jika sya’irnya tidak termasuk yang seperti ini, lantaran mengajak kepada hal-hal yang bertentangan dengan syariat, maka itu bukanlah perkara yang baik, dan tidak seharusnya bertoleransi dengannya, bahkan wajib meninggalkannya hingga sya’ir tersebut sesuai dengan syariat Allah Ta’ala.

Hendaknya setiap nasyid diserahkan kepada ulama atau lembaga ulama untuk menilai dan mengoreksinya. Maka, jika sudah dikoreksi, dan mereka membolehkan untuk disampaikan di sekolah atau selain sekolah … Janganlah diserahkan kepada tiap orang untuk menilai nasyid ini, tetapi hendaknya dinilai oleh lembaga. Jika yang menilai adalah dari lembaga ilmu pengetahuan umum maka mereka menilai dengan sudut pandangnya itu, jika yang menilai dari lembaga pesantren maka mereka juga akan menilai dengan sudut pandangnya. .. dari sudut apa pun cara pandang menilai nasyid-nasyid ini: tidaklah diberi kelapangan sampai dikembalikan kepada lembaga ahli ilmu dan pengetahuan, yang sudah diketahui keistiqamahannya terhadap syariat, karena menggampangkan masalah ini akan membawa kepada keburukan yang banyak .. maka harus dikembalikan kepada ulama yang mereka dikenal keilmuan, keutamaan, dan kecemburuannya terhadap Islam … (ucapan tidak jelas) .. mereka menjelaskan cacat apa saja yang ada padanya, lalu mengarahkan para penasyid kepada apa yang lebih afdhal ..

Lalu Penanya berkata: Tentu .., diantara pendapat Anda janganlah berlebihan terhadap nasyid-nasyid ini, hingga memalingkan dari mendengarkan Al Quran, karena sebagian ikhwah ada yang mengeluh, bahwa nasyid telah memalingkan mereka dari mendengarkan Al Qran dan dzikir?

Syaikh bin Baz menjawab: “Dia semestinya memiliki waktu khusus yang sedikit saja, jangan sampai nasyid menyibukkan mereka dari hal yang lebih penting, baik dibanding pelajaran mereka, dibanding Al Quran, dan dibanding dzikir, maka hendaknya nasyid itu porsinya sedikit saja .. tetapi jika engkau menghendaki waktu khusus untuknya, baik sebelum belajar, atau setelahnya, atau ketika belajar, jika hal itu ada manfaat yang terkait dengan maslahat islam yang telah diarahkan oleh lembaga ulama yang secara khusus memberikan perhatian dalam masalah ini. Baik yang dikatakan oleh mereka untuk dilakukan atau tidak dilakukan, atau pada waktu sekian , atau selama lima menit atau sepuluh menit, atau lebih sedikit atau juga lebih lama .. “ (lalu suara terputus).

Kemudian, Syaikh bin Baz berkata: “Nasyid yang Islami maka dia islami, yang tidak islami maka dia boleh pada kadar tertentu, jika berlebihan maka menjadi nasyid syaithani.”

Berkata penanya: “Tetapi Ya Syaikh, kaitannya dengan perusahaan rekaman Islam –semoga Allah memberikan balasan kebaikan kepada mereka- banyak di antara nasyid-nasyid yang tanpa musik, dan sebagiannya sudah dicampur dengan musik … (suara tidak kuat), dan musik itu haram?

Syaikh menjawab: “Saya tidak tahu, demi Allah, saya tidak punya info tentang itu. Tetapi, yang jadi kaidah adalah: ‘sesuai dengan syariat dan bertentangan dengan syariat’, jika pakai musik maka itu terlarang.” (selesai fatwa ketiga)

Fatwa 4:

سماحة الشيخ عبدالعزيز بن باز

س: يقول ابنتي تذهب إلى الروضة رياض الأطفال ولكن من بين الأشياء التي يؤدونها في الروضة أن المدرسة تفتح لهم المسجل وتسمعهم الأناشيد الغير مبتذلة مثلا عن الأم والوطن وما شابه ذلك ولكن تلك الأناشيد تكون مصحوبة بالموسيقي فهل يجوز لي أن أدع ابنتي تذهب وهل يكون على ذنب إذا استمعت لمثل ذلك؟
ج- هذا غلط من المدرسة أما سماع الطفلة الأناشيد السليمة فلا حرج في ذلك وهكذا الطفل وهكذا غيرهما من الأناشيد التي ليس فيها محرم إنما هي للتشجيع على الأخلاق الفاضلة أو ما يتعلق بواجب الوطن عليهم وواجب دولتهم ونحو ذلك أما اصطحابها بالموسيقي فهذا غلط ولا يجوز والواجب على القائم على الروضات منع ذلك حتى لا يبقى هناك مانع من مجيء الأطفال إليهم فعليك أنت وإخوانك أن تتصلوا بالمسئولين عن هذه الروضات حتى يمنعوا هذا الشيء لأن هذا لا حاجة إليه ويربى الأطفال الصغار على حب الموسيقي والتلذذ بها واستماعها بعد ذلك فالطفل على ما ربي عليه فعليكم أن تتصلوا بالمسئولين بهذا عن المدارس حتى يمنعوا ذلك وحتى تسلم هذه الروضات مما يخالف شرع الله سبحانه وتعالى.

Penanya berkata:

“Anak putri saya pergi ke taman sekolah TK, tetapi di sana sekolah menyambutnya dengan berbagai sambutan diantaranya adalah rekaman nasyid yang diperdengarkan kepada mereka, bertemakan semangat berkorban kepada ibu dan tanah air misalnya, dan sejenisnya. Tetapi pada nasyid tersebut diiringi dengan musik, apakah boleh bagi saya membiarkan anak saya pergi ke sana, dan apakah berdosa jika dia mendengarkan hal seperti itu?”

Jawab Syaikh:

“Itu merupakan kesalahan sekolah. Ada pun bagi anak-anak puteri mendengarkan nasyid-nasyid yang baik maka tidak mengapa hal itu. Begitu pula tidak mengapa bagi anak-anak putera dan selain mereka, yakni nasyid-nasyid yang tidak mengandung keharaman. Nasyid yang menggelorakan terbentuknya akhlak yang mulia, dan apa-apa yang terkait dengan kewajiban mereka terhadap tanah air dan negara. Ada pun iringan musik, maka itu kesalahan dan tidak boleh, dan wajib bagi penjaga taman untuk mencegahnya, sampai tidak ada lagi hal-hal yang menghalangi anak-anak untuk datang ke sana. Maka, anda dan saudara anda wajib menyampaikan kepada penanggung jawab taman-taman ini, sampai mereka menceah hal ini, sebab hal ini tidak dibutuhkan untuk mendidik mereka agar mencintai musik, menikmati, dan mendengarkannya setelah itu. Maka, hendaknya anak-anak mendapatkan apa-apa yang bisa mendidiknya, maka anda sampaikan hal ini kepada pihak penanggung jawab sekolah tentang hal ini, sehingga mereka mencegahnya sampai TK ini bersih dari apa-apa yang berselisihan dengan syariat Allah Ta’ala.” (selesai fatwa keempat)

2. Al ‘Allamah Syaikh Muhammad Nashiruddin Al Albani Rahimahullah

محدّث الديار الشاميّة الشيخ محمد ناصر الدين الألباني رحمه الله
إذا كانت هذه الأناشيد ذات معانٍ إسلامية ، و ليس معها شيء من المعازف و آلات الطرب كالدفوف و الطبول و نحوِها ، فهذا أمرٌ لا بأس به ، و لكن لابد من بيان شرطٍ مهم لجوازها ، وهو أن تكون خالية من المخالفات الشرعية ؛ كالغلوّ ، و نَحوِه ، ثم شرط آخر ، و هو عدم اتخاذها دَيدَناً ، إذ ذلك يصرِفُ سامعيها عن قراءة القرآن الذي وَرَدَ الحضُّ عليه في السُنَّة النبوية المطهرة ، و كذلك يصرِفُهُم عن طلب العلم النافع ، و الدعوة إلى الله سبحانه
]العدد الثاني من مجلة الأصالة ، الصادر بتاريخ 15 جمادى الآخرة 1413هـ ، ص : 73 [

Beliau berkata:

“Jika nasyid-nasyid ini memiliki muatan-muatan islami, dan tidak diiringi dengan alat-alat musik seperti dufuf (gendang), dan semisalnya, maka ini sesuatu yang tidak mengapa. Tetapi harus dijelaskan syarat penting untuk kebolehannya. Hendaknya tidak bertentangan dengan syariat, seperti ghuluw (melampaui batas) dan semisalnya, kemudian syarat lainnya, yaitu tidak menjadikannya sebagai kebiasaan, ingatlah, hal itu bisa mengalihkannya dari membaca Al Quran yang telah diperintahkan dengan tegas dalam sunah nabi, dan juga mengalihkannya dari menuntut ilmu yang bermanfaat, dan da’wah ilallahu Subhanahu wa Ta’ala .(Majalah Ashalah, edisi 2, tanggal 15 Jumadil Akhir 1413H, Hal. 73)

3. Al ‘Allamah Syaikh Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin Rahimahullah

الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله

ما رأى فضيلتكم فى الأناشيد الاسلامية ؟

الأناشيد الإسلامية كثر الكلام عليها وأنا لم أستمع إليها إلا من مدة طويلة، وهي أول ما خرجت لا بأس بها، ليس فيها دفوف، وتؤدى تأدية ليس فيها فتنة ، وليست على نغمات الأغاني المحرمة، لكن تطورت في الواقع وصارت يسمع منها قرع يمكن أن يكون غير الدف، ثم تطورت باختيار ذوي الأصوات الجميلة الفاتنة، ثم تطورت أيضا إلى أنها تؤدى على صفة الأغاني المحرمة، لذلك بقي في النفس منها شيء وقلق، ولا يمكن للإنسان أن يفتي بأنها جائزة على كل حال ولا محرمة على كل حال، وإذا كانت خالية من الأشياء التي ذكرتها فهي جائزة، أما إذا كانت مصحوبة بدف، أو كان مختارا لها ذوي الأصوات الجميلة التي تفتن ، أو أديت على نغمات الأغاني الهابطة فإنه لا يجوز السماع لها

“Banyak perbincangan tentang nasyid-nasyid Islami, dan saya tidak lagi mendengarkannya sudah sejak lama. Ketika awal keluarnya nasyid tidaklah mengapa. Tidak pakai dufuf (rebana), ditampilkan dengan tanpa hal-hal yang mengandung fitnah, tidak diperindah dengan nyanyian yang diharamkan, tetapi perkembangan realitanya, mendengarkan sebagian nasyid menjadi sesuatu yang berbahaya, mungkin bukan cuma memakai rebana, lalu berkembang lagi dengan memakai suara-suara yang indah mengandung fitnah, lalu berkembang lagi ditampilkan seperti penampilan lagu-lagu yang diharamkan, karena itu nasyid telah menyisakan sesuatu yang menggelisahkan, maka tidak mungkin manusia memfatwakan, bahwa nasyid itu boleh pada semua keadaan, dan haram dalam semua keadaan. Jika nasyid tersebut tidak terdapat halhal yang saya sebutkan, maka boleh saja mendnegarkannya. Ada pun jika diiringi dengan rebana, atau memakai suara – suara indah dan mengandung fitnah, dan ditampilkan dengan dihiasi cara-cara penyanyi rendahan, maka tidak boleh mendengarkannya.” (Selesai fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)

1. Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin hafizhahullah

الشيخ عبدالله بن عبدالرحمن الجبرين

النشيد هو قراءة القصائد إما بصوت واحد أو بترديد جماعتين، وقد كرهه بعض المشايخ، وقالوا: إنه من طرق الصوفية، وأن الترنم به يشبه الأغاني التي تثير الغرائز، ويحصل بها نشوة ومحبة لتلك النغمات. ولكن المختار عندي: جواز ذلك- إذا سلمت من المحذور- وكانت القصائد لا محذور في معانيها، كالحماسية والأشعار التي تحتوي على تشجيع المسلمين على الأعمال، وتحذيرهم من المعاصي، وبعث الهمم إلى الجهاد، والمسابقة في فعل الخيرات، فإن مصلحتها ظاهرة، وهي بعيدة عن الأغاني، وسالمة من الترنم ومن دوافع الفساد.

“Nasyid adalah bacaan qasidah, baik dengan satu suara atau dua kelompk yang saling bersahutan, sebagian masyayikh ada yang memakruhkannya, mereka mengatakan itu merupakan jalan sufi, dan sesungguhnya melantunkannya merupakan penyerupaan dengan nyanyian yang berdampak bagi gharizah (instink), yang akan menghasilkan mabuk cinta lantaran keindahannya. Tetapi pendapat yang dipilih menurutku adalah hal itu boleh, jika bersih dari hal-hal yang harus diwaspadai. Qasidah yang makna-maknanya baik, seperti semangat atau syi’ar-syi’ar yang bisa menyemangati kaum musimin untuk beramal, dan memperingatkan mereka dari maksiat, dan membangkitkan semangat jihad, berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan, maka maslahatnya jelas, dan jauh dari sifat nyanyian, bersih dan terhindar dari lantunan yang merusak.” (selesai fatwa Syaikh Abdullah bin Abdurrahman Al Jibrin)

5. Fatwa Lajnah Daimah Lil Ifta’ Saudi Arabia

اللجنةُ الدائمةُ للإفتاءُ

اعتَبَرَت اللجنةُ الدائمةُ للإفتاءُ الأناشيدَ بديلاً شرعيّاً عن الغناء المحرّم ، إذ جاء في فتاواها
يجوز لك أن تستعيض عن هذه الأغاني بأناشيد إسلامية ، فيها من الحِكَم و المواعظ و العِبَر ما يثير الحماس و الغيرة على الدين ، و يهُزُّ العواطف الإسلامية ، و ينفر من الشر و دواعيه ، لتَبعَثَ نفسَ من يُنشِدُها ومن يسمعُها إلى طاعة الله ، و تُنَفِّر من معصيته تعالى ، و تَعَدِّي حدوده ، إلى الاحتماءِ بحِمَى شَرعِهِ ، و الجهادِ في سبيله .
لكن لا يتخذ من ذلك وِرْداً لنفسه يلتزمُه ، و عادةً يستمر عليها ، بل يكون ذلك في الفينة بعد الفينة

Lajnah Daimah Lil Ifta’ telah menjelaskan, nasyid-nasyid Islami sebagai alternatif pengganti yang syar’i terhadap nyanyian-nyayian yang haram. Demikianlah fatwanya.

“Boleh bagimu menggantikan nyanyian tersebut dengan nasyid-nasyid Islami, di dalamnya terdapat hikmah, pelajaran, dan ‘ibrah yang memberikan pengaruh bagi semangat dan kecemburuan terhadap agama, menggerakkan belas kasih Islami, menjauh dari keburukan dan ajakannya, untuk membangkitkan ketaatan kepada Allah baik bagi yang menyenandung dan yang mendengarkannya, menjauh dari maksiat kepadaNya, melanggar batasNya, menjaga diri dengan syariatNya, serta berjihad di jalanNya.

Tetapi hendaknya tidak menjadikannya sebagai sebuah kelaziman dan kebiasaan terus menerus, melainkan sesekali saja…. dan seterusnya.”

Bersyukur Akan Mengubah Hidup

Syukur, suatu kata yang sangat berbobot dan memberikan makna yang tidak terhingga. Allah telah menjamin dalam Al Quran, barang siapa yang bersyukur maka Allah akan menambah nikmat kepada orang tersebut. Sudahkan Anda bersyukur? Sudahkah Anda merasakan tambahan nikmat atas syukur Anda? Apakah Anda ingin mendapatkan nikmat yang lebih besar lagi? Lupakan mengeluh, mulailah perbanyak syukur.

Ada dua manfaat besar dari bersyukur. Kedua manfaat ini akan mengubah hidup kita jika kita mendapatkannya.

Pahala dari Allah. Jelas, bersyukur adalah perintah Allah, kita akan mendapatkan pahala jika kita bersyukur dengan ikhlas.
Menciptakan Feeling Good. Dengan bersyukur akan membuat kita lebih bahagia. Perasaan kita menjadi lebih enak dan nyaman dengan bersyukur. Bagaimana tidak, pikiran kita akan fokus pada berbagai kebaikan yang kita terima.
Lalu apa manfaat Feeling Good?

Jika Anda yang percaya dengan Hukum Daya Tarik (law of attraction), feeling good akan meningkatkan kekuatan Anda menarik apa yang Anda inginkan. Kekuatan hukum ini akan sebanding dengan keyakinan dan perasaan positif. Sementara semakin banyak kita bersyukur, akan semakin banyak perasaan positif pada diri kita.
motivasi akan muncul dari kondisi emosi yang positif (dibahas lebih lanjut pada ebook saya motivasi Diri). Sementara bersyukur akan menciptakan emosi yang positif karena kita fokus apda hal-hal yang positif. Semakin banyak Anda bersyukur akan semakin besar motivasi yang Anda miliki.
Bersyukur akan membentuk pola pikir sukses. Pola pikir sukses adalah keyakinan dalam mendapatkan. Saat kita bersyukur, maka pikiran kita secara tidak sadar diberikan suatu “pola” mendapatkan, sehingga akan terbentuk pola sukses.
Dengan melihat ketiga manfaat dari feeling good, kita bisa menyimpulkan bahwa feeling good adalah mungkin menjadi salah satu cara Allah memberikan nikmat tambahan kepada kita. Jika orang baru ribut dengan manfaat syukur pada kahir-akhir ini, Al Quran sudah 14 abad yang lalu. Sungguh suatu nikmat Allah yang diberikan kepada kita, sayang jika kita mengabaikannya.

Cara Meningkatkan Syukur
Saya yakin, Anda yang mau membaca artikel ini adalah orang-orang yang pandai bersyukur. Namun bukan berarti kita tidak perlu meningkatkan. Setinggi apa pun Anda menjadi hamba yang bersyukur, Anda masih tetap perlu meningkatkan syukur Anda. Jika Anda baru bersyukur saat menambatkan nikmat berupa materi, ini adalah baru tahap awal menjadi hamba yang pandai bersyukur.

Untuk meningkatkan rasa bersyukur, kita harus lebih jeli dan peka terhadap berbagai nikmat yang diberikan Allah kepada kita. Kurangnya kepekaan terhadap nikmat Allah akan mengurangi syukur kita, sebab kita merasa tidak ada yang perlu disyukuri lagi. Meningkatkan kepekaan bisa dilakukan dengan melakukan perenungan terhadap apa yang terjadi pada hidup kita sehari-hari. Luangkan waktu Anda setiap hari untuk merenungkan nikmat setiap harinya.
Setiap saat, kita mendapatkan nikmat baru. Satu detik waktu berlalu berarti kita mendapatkan nikmat hidup selama satu detik. Nafas kita, penglihatan kita, penciuman kita, detak jantung kita dan sebagainya yang tidak mungkin disebutkan disini.
Selalu ada hikmah dari setiap kejadian, baik kejadian pad diri sendiri maupun orang lain. Sementara setiap saat selalu ada kejadian, berarti selalu ada hikmah yang bisa kita ambil. Sementara hikmah adalah suatu nikmat. Syuku

Kata Mutiara

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya. (Mereka berdo`a): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang yang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri maaflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir”. (QS. Al Baqarah:286)


Mengalahkan Setan
Bertaqwalah kepada Allah karena itu adalah kumpulan segala kebaikan, dan berjihadlah di jalan Allah karena itu adalah kerahiban kaum muslimin, dan berzikirlah kepada Allah serta membaca kitabNya karena itu adalah cahaya bagimu di dunia dan ketinggian sebutan bagimu di langit. Kuncilah lidah kecuali untuk segala hal yang baik. Dengan demikian kamu dapat mengalahkan setan. (HR

Tidak Ada Kesalahan Tentang Kita

Anda pernah gagal? Anda pernah melakukan kesalahan? Anda pernah melakukan hal yang konyol? Anda pernah bertindak bodoh? So what gitu loh… Itu adalah kesalahan dan kegagalan Anda. Tetapi tidak ada yang salah dengan Anda. Manusia sudah diciptakan dalam kondisi yang sebaik-baiknya. Bahkan cacat fisik pun tidak mengurangi kebaikan manusia.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS At Tiin:4)

Jika Allah mengatakan bahwa kita sebaik-baiknya makhluq, mengapa kita memvonis diri yang negatif? “Saya tidak!”. Memvonis diri bukan hanya oleh perkataan saja, tetapi pikiran dan tindakan pun mengambarkan anggapan Anda terhadap diri Anda.

Anda memiliki potensi yang dahsyat (mungkin Anda berkata, “semua orang juga sudah tahu?”). Lalu mengapa, masih banyak orang yang menyia-nyiakan potensi tersebut? Ada dua kemungkinan:

Dia tidak bersyukur atas nikmat potensi yang diberikan Allah kepadanya, sebagai bukti dia menyia-nyiakannya.
Dia memvonis dirinya tidak mampu. Mungkin dia tidak mengatakan bahwa dirinya tidak mampu, tetapi perilakunya menunjukan bahwa dia menganggap diri tidak mampu.
Kita dilahirkan dalam kondisi nol. Kita menjadi pribadi tertentu karena perubahan yang dilakukan oleh manusia (termasuk oleh orang tua dan diri sendiri). Artinya, meskipun kita pernah melakukan berbagai kesalaahan dan mengalami kegagalan, itu adalah hasil pikiran dan tindakan kita. Bukan takdir kita, sebab saat kita lahir, kita dalam keadaan fitrah.

Tiap bayi dilahirkan dalam keadaan suci (fitrah-Islami). Ayah dan ibunya lah kelak yang menjadikannya Yahudi, Nasrani atau Majusi (penyembah api dan berhala). (HR. Bukhari)

Jika aklaq kita adalah bentukan manusia (kita dan orang tua), maka kita bisa mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih baik atau sesuai dengan yang kita inginkan. Jika diri kita saat ini adalah hasil dari pikiran dan tindakan, maka kita bisa berubah dengan mengubah pikiran dan tindakan kita. Kita bisa!

Meski orang tua kita berperan dalam membentuk diri kita saat ini. Jangan pernah menyalahkan orang tua. Saya yakin semua orang tua bermaksud baik bagi anak-anaknya, hanya saja banyak orang tua yang tidak mengerti ilmunya. Kita tetap harus berbakti kepada orang tua dan memaafkan kesalahannya. Sekarang, Anda sudah dewasa, maka tugas Andalah yang membentuk diri Anda dengan cara mengubah pikiran dan tindakan Anda.

Antara Kelemahan Dan Kemuliaan

Manusia diciptakan Allah di antara dua sifat, yaitu antara kelemahan dan kemuliaan. Kita harus menyadari bahwa kita diciptakan dengan segala keterbatasan baik fisik maupun pikiran. Sementara kita juga diberikan kemuliaan dengan berbagai kelebihan dibandingkan makhluq lainnya. Kelemahan dan kemuliaan ini diberikan bersamaan kepada diri manusia oleh Allah. Untuk apa?

Kelemahan Manusia

“Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS. An Nisa:28)

Inilah suatu keseimbangan yang diberikan Allah kepada manusia, antara kelemahan dan kemuliaan. Diberikan kelemahan agar kita lebih waspada dalam bertindak, tidak takabur, dan selalu merasa memerlukan pertolongan Allah dalam kehidupannya. Memang, manusia diberikan berbagai kemulian dan potensi yang dahsyat untuk menundukan alam, tetapi dengan adanya kelemahan pada diri kita, ini akan menyadarkan bahwa kita memerlukan Allah SWT.

Inilah yang membuat kita harus waspada, sehingga memerlukan petunjuk dalam berjalan. Kita memerlukan petunjuk dari Allah agar jalan yang kita tempuh berada dalam jalan yang benar, sesuai dengan fitrahnya. Bayangkan jika kita mengendarai mobil, jika kita merasa mobil yang kita kendarai “sempurna” dan “anti kecelakaan” maka kita akan menjalankan mobil dengan seenaknya atau sembarangan. Tetapi saat kita sadar bahwa masih banyak kelemahan dalam mobil kita, kita akan mengendarai mobil dengan hati-hati.

“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh,”(QS.Al Ahzab:72)

Selain lemah, manusia juga ternyata zalim dan amat bodoh. Kita harus menyadarinya sehingga kita tetap meminta petunjuk dari Allah dalam menjalani hidup kita. Jangan pernah lepas dari petunjuk, jangan penah lepas dari Al Quran dan Hadits karena kita membutuhkan, karena kita zalim dan bodoh.

Bagaimana pun kita ini adalah umat fakir, yaitu membutuhkan Allah dalam kehidupan kita. Sayang sekali banyak manusia yang lupa, mereka hanya mengandalkan pikiran dan tenaga saja dalam meraih sesuatu, padahal kita adalah mahkluq yang fakir, seperti firman Allah:

“Hai manusia, kamulah yang berkehendak kepada Allah; dan Allah Dialah Yang Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) lagi Maha Terpuji.“(QS. Faathir:15)

Kemuliaan Manusia

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS.Al Israa’:70)

Ditiupi ruh
“Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur.” (QS.As Sajdah:9)
Diberi kistimewaan
Manusia diberikan kelebihan yang sempurna seperti yang dijelaskan QS.Al Israa’:70.
Alam diperuntukan untuk manusia
“Allah-lah yang menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seizin-Nya dan supaya kamu dapat mencari karunia -Nya dan mudah-mudahan kamu bersyukur.” (QS.Al Jaatsiyah:12)
Dengan kelebihan-kelebihan ini, kita tidak ada lagi alasan untuk tidak percaya diri dalam menjalan berbagai tugas yang diberikan Allah SWT kepada kita. Tugas yang diberikan kepada kita, ternyata sudah dilengkapi dengan bekal yang telah diberikan-Nya kepada kita.

Kita memiliki kelebihan dibanding makhluq lain, akan memotivasi kita untuk hidup lebih baik dari makhluq lain. Hidup yang tidak hanya mengejar keperluan perut dan dibawah perut saja, tetapi lebih dari itu. Sebab yang demikian, binatang pun bisa. Sementara dalam menjalani hidup kita masih memerlukan pertolongan Allah karena kita lemah, zalim, dan bodoh. Itulah umat Islam, umat pertengahan atau bisa dikatakan hidup dalam keseimbangan.